Menggali kecerdasan budaya sebagai fondasi desain di era kecerdasan artifisial.
IDEALab adalah laboratorium riset di FSRD ITB yang mempertemukan kembali akar budaya Nusantara dengan cara berpikir desain kontemporer — sebelum keduanya tercerabut oleh kecepatan otomasi.
Riset yang sedang berjalan, dari catatan Jurnal terbaru.
Tiga pembaruan riset paling baru — versi lengkapnya ada di halaman Jurnal.
Latar belakang dan alasan berdirinya IDEALab.
Bukan lab yang lahir dari tren, tapi dari kegelisahan atas arah pendidikan desain di tengah percepatan kecerdasan artifisial.
"Menggali kecerdasan budaya sebagai fondasi desain di era kecerdasan artifisial." — Manifesto IDEALab
IDEALab didirikan sebagai respons terhadap kebutuhan akan ruang riset yang secara sengaja menautkan kearifan budaya dengan cara kerja desain masa kini — termasuk desain yang kini banyak dibantu oleh sistem kecerdasan artifisial.
Alih-alih membangun narasi "estetika komunitas" yang umum dipakai, IDEALab secara sadar memilih istilah "estetika warga" — sebuah posisi yang menegaskan bahwa kecerdasan budaya bukan milik komunitas eksklusif, melainkan milik warga secara luas, dan karenanya layak menjadi fondasi berpikir desain di ITB.
Arah ini juga selaras dengan semangat "kampus berdampak" — bahwa riset desain semestinya bisa diuji langsung di lapangan, bukan berhenti di ruang kelas.
Tim inti yang menggerakkan IDEALab.
Lintas disiplin desain dan sains — disatukan oleh keingintahuan yang sama terhadap akar budaya.
Dwinita Larasati
Roby Muhamad
Dwi Santoso
Muhammad Yahya
Panca D. Zen
IDEALab digerakkan oleh tim peneliti di ITB, berkolaborasi lewat lintas disiplin, lembaga, dan organisasi.